☎ 081234516441 ✉ ppyu39a@gmail.com
📍 Sidoresmo Dalam II/39 A Kel. Jagir Kec. Wonokromo Surabaya
Logo Pondok Pesantren Yanabi'ul Ulum Pondok Pesantren Yanabi'ul Ulum PPYU Sidoresmo
← Kembali

Madin PPYU

Program Madrasah Diniyah PPYU menjadi bagian penting dalam penguatan ilmu agama, dasar-dasar fikih, akidah, akhlak, nahwu, sharaf, dan pembelajaran kitab. Jantung intelektual PPYU yang berdenyut di Madrasah Diniyah. Berbeda dengan sekolah formal yang mengejar ijazah negara, Madin PPYU mengejar penguasaan materi (malakah) dan pemahaman mendalam (tafaqquh fiddin) . Kurikulum Madin disusun secara berjenjang (tadarruj) dalam 6 kelas, yang dibagi menjadi dua marhalah (tahapan) strategis. Desain kurikulum ini dirancang agar seorang santri yang masuk dari nol (belum mengenal kitab kuning), dapat lulus dengan kemampuan membaca kitab gundul secara mandiri dan memahami hukum Islam secara komprehensif.

1. Marhalah Al-Ula / Jenjang Awal (Kelas 1, 2, 3,4)

Ini adalah fase pondasi. Sebagaimana sebuah bangunan, jika pondasinya rapuh, maka bangunan setinggi apapun akan mudah roboh. Di jenjang ini, target utamanya bukan pada luasnya wawasan, melainkan pada ketepatan pengamalan dasar dan pengenalan alat baca.

  • Aqidah & Akhlaq: Pada tahap ini, santri diperkenalkan dengan sifat-sifat wajib bagi Allah dan Rasul melalui kitab Aqidatul Awam. Tujuannya adalah menanamkan keyakinan yang lurus sejak dini. Di sisi akhlak, kitab Alala dan Ta'limul Muta'allim menjadi menu wajib untuk menata niat. Santri diajari bahwa ilmu tidak akan masuk ke hati yang sombong atau tidak menghormati guru.
  • Fiqih Ibadah: Pembelajaran fiqih difokuskan pada Fardhu 'Ain harian. Melalui kitab Fasholatan, Mabadi'ul Fiqhiyyah dan Safinatun Najah, santri digembleng untuk menyempurnakan wudhu, shalat, dan puasa mereka. Tidak boleh ada santri PPYU yang bacaan shalatnya salah atau tidak paham syarat sah shalat.
  • Ilmu Alat (Nahwu-Sharaf): Inilah ciri khas pesantren salaf. Sejak kelas 1, santri sudah dikenalkan dengan struktur bahasa Arab. Kitab Al-Jurumiyyah menjadi primadona di jenjang ini. Santri wajib menghafal matan-nya dan memahami konsep dasar Kalam, I'rab, dan tanda-tandanya. Di kelas 3, mereka harus sudah menguasai perubahan kata (Tashrif) melalui metode praktis Amtsilah At-Tashrifiyyah.

 

2. Marhalah Ats-Tsaniyah / Jenjang Wustho (Kelas 5 dan 6)

Memasuki jenjang Wustho, santri diajak "berlari" lebih kencang. Jika di jenjang Awal mereka diajarkan "bagaimana" beribadah, di jenjang ini mereka diajarkan "mengapa" hukumnya demikian (dalil dan istinbath).

  • Pendalaman Ilmu Alat: Nahwu dan Sharaf tidak lagi sekadar hafalan, tetapi analisis teks. Kitab Nadham 'Imrithi dan Nadham Maqsud menjadi jembatan sebelum santri menaklukkan puncak ilmu Nahwu, yakni Alfiyyah Ibn Malik di kelas 6. Santri dituntut mampu membedah struktur kalimat dalam Al-Quran atau hadits: Mengapa dibaca rafa'? Mengapa menjadi maf'ul? Kemampuan analisis gramatika ini adalah kunci mutlak untuk fathul kutub (membuka/membaca kitab kuning).
  • Fiqih Furu'iyah: Wawasan fiqih diperluas menggunakan kitab Fathul Qarib Al-Mujib. Santri tidak hanya belajar ibadah, tetapi juga Muamalah (Jual Beli, Riba, Nikah) dan Jinayat (Hukum Pidana Islam). Mereka mulai diajak memahami variasi hukum dan kasus-kasus kontemporer dasar.
  • Ushul Fiqh & Balaghah: Ini adalah materi pembeda kedewasaan intelektual santri. Di kelas 5 dan 6, mata pelajaran Ushul Fiqh (melalui kitab Al-Waraqat) diperkenalkan untuk memahami metodologi pengambilan hukum. Bagaimana hukum Al-Quran digali? Apa itu Ijma' dan Qiyas? Selain itu, ilmu Balaghah (Sastra Arab) diajarkan agar santri peka terhadap keindahan bahasa Al-Quran dan tidak kaku dalam menerjemahkan teks.
  • Hadits & Musthalah: Santri tidak hanya menghafal Arba'in Nawawiyah, tetapi juga mempelajari Ilmu Musthalah Hadits melalui Manzhumah Al-Baiquniyyah. Mereka diajarkan cara memverifikasi validitas sebuah hadits, membedakan antara hadits Shahih, Hasan, dan Dha'if. Ini adalah bekal penting agar santri PPYU tidak mudah terjebak menyebarkan hadits palsu di era digital.